Need for Speed Carbon datang dengan janji melanjutkan konflik jalanan setelah Most Wanted, tapi sayangnya cerita yang ditawarkan terasa lebih seperti formalitas daripada kekuatan utama. Ide perebutan wilayah di Palmont City sebenarnya menarik, namun penyajiannya terlalu cepat dan dangkal. Karakter-karakter crew dan rival muncul tanpa cukup ruang untuk berkembang, membuat konflik terasa kurang personal. Dibandingkan Most Wanted yang punya build-up emosi lebih kuat, Carbon terkesan terburu-buru menyelesaikan ceritanya.
Dari sisi gameplay, Carbon mencoba membawa sesuatu yang berbeda lewat sistem crew dan territory war atau perebutan wilayah. Ide ini patut diapresiasi karena memberi nuansa strategi, bukan sekedar balapan dari satu event ke event lain. Namun dalam praktiknya, peran crew sering terasa pasif dan tidak benar-benar krusial. Mereka lebih terasa sebagai gimmick ketimbang elemen gameplay yang mendalam. Balapan canyon yang diharapkan jadi daya tarik utama justru sering terasa repetitif dan lebih mengandalkan hafalan trek daripada skill balap yang sesungguhnya.
Masalah lain yang cukup mengganggu adalah pacing permainan. Progress terasa cepat, bahkan terlalu cepat untuk ukuran game Need for Speed. Ini membuat Carbon terasa seperti game yang potensinya besar, tapi tidak dimaksimalkan. Padahal dengan pengembangan cerita yang lebih matang dan sistem gameplay yang lebih dalam, Carbon bisa jadi penerus Most Wanted yang jauh lebih solid.
Singkatnya, Need for Speed Carbon bukan game yang buruk, tapi juga bukan lompatan yang besar. Ia lebih cocok disebut sebagai eksperimen yang setengah matang. Menarik secara konsep, namun kurang berani dan kurang matang dalam eksekusinya.







0 komentar:
Posting Komentar